Yogyakarta – BBPPMPV Seni dan Budaya menerima kunjungan akademik dari mahasiswa Zurich University dan Taipei National University of the Arts dalam rangka pengumpulan data untuk riset studi magister (S2).
Sebanyak tujuh mahasiswa yang berasal dari Guatemala, London, Swiss, Filipina, dan Jepang tersebut hadir dengan satu payung proyek penelitian bertema seni dan budaya, meskipun masing-masing memiliki konsentrasi kajian yang berbeda. Beberapa di antaranya secara khusus menaruh minat pada seni wayang dan seni rupa.

Kunjungan ini bertujuan untuk memperoleh data dan referensi mendalam terkait seni pedalangan. BBPPMPV Seni dan Budaya dipilih karena dinilai sebagai salah satu pusat informasi dan rujukan penting dalam bidang wayang dan pendidikan seni budaya di Indonesia.
Dalam kegiatan ini, balai memberikan pendampingan terhadap kebutuhan data penelitian para mahasiswa. Berbagai koleksi wayang dari beragam daerah turut diperkenalkan, mulai dari wayang Bali, Sunda, Jawa Timuran, Wayang Menak, hingga gaya Yogyakarta dan Surakarta. Fasilitas pendukung seperti gamelan dan kelir juga tersedia sebagai sarana pembelajaran kontekstual. Mereka juga diajarkan praktik bagaimana seni dalam pedalangan.

Salah satu widyaiswara, Purwadi, S.Sn., menyampaikan rasa bangganya atas ketertarikan mahasiswa asing terhadap seni pedalangan. Menurutnya, minat tersebut menjadi sinyal positif bahwa seni wayang memiliki daya tarik global dan berpotensi terus lestari melalui jalur akademik. Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu mahasiswa yang hadir merupakan alumni program Dharmasiswa ketika balai ini masih bernama PPPPTK Seni dan Budaya. Latar belakang tersebut menjadi salah satu alasan kuat memilih kembali belajar dan melakukan riset di lembaga ini.
Widyaiswara lainnya, Sri Mulyono, S.Sn., M.Pd., yang turut mendampingi kegiatan ini, menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang menjadikan seni wayang begitu menarik bagi mahasiswa asing. “Wayang memiliki nilai budaya dan sejarah yang mendalam. Di dalamnya terkandung filosofi kehidupan dan nilai moral yang kaya, serta keunikan artistik yang tidak dimiliki oleh banyak kesenian lain di dunia,” terangnya. Menurutnya, kombinasi antara kedalaman makna dan kekuatan visual inilah yang menjadikan wayang relevan untuk dikaji dalam perspektif akademik global.

Sementara itu, Yohan, salah satu mahasiswa dari Taipei National University of the Arts, menjelaskan bahwa ketertarikannya pada wayang tidak lepas dari latar belakang leluhurnya yang berasal dari Suriname. Ia menuturkan bahwa budaya Jawa-Suriname cukup kental berkembang di Belanda, namun tidak banyak ditemui ketika dirinya melanjutkan studi di London. Hal inilah yang mendorongnya untuk memperdalam pemahaman tentang akar budaya nenek moyangnya melalui studi pedalangan di Indonesia.
Para mahasiswa juga mengaku memilih BBPPMPV Seni dan Budaya karena pengalaman belajar sebelumnya yang dinilai sangat memadai, baik dari segi fasilitas, kelengkapan materi, maupun kualitas pengajar. Informasi yang diberikan dinilai lengkap dan komprehensif, sehingga sangat mendukung kebutuhan penelitian mereka.

Proses diskusi berlangsung komunikatif dengan pendampingan interpreter, Eko Santosa, S.Sn., M.Pd., yang membantu menjembatani komunikasi sehingga pertukaran informasi berjalan efektif.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa seni wayang tidak hanya menjadi warisan budaya nasional, tetapi juga magnet akademik internasional. Melalui kolaborasi riset dan pertukaran pengetahuan lintas negara, seni dan budaya Indonesia semakin mengukuhkan posisinya di kancah global.(AR)

