Upaya penguatan sumber daya manusia pendidikan vokasi terus dilakukan BBPPMPV Seni dan Budaya melalui penyelenggaraan dua program peningkatan kompetensi yang berlangsung secara bersamaan pada Mei 2026. Kedua kegiatan tersebut yakni Peningkatan Kompetensi Guru Umum Bidang Seni dan Budaya SMK yang dilaksanakan pada 18 s.d. 21 Mei 2026 serta Diklat Manajerial Peningkatan Kompetensi bagi Kepala SMK Berbasis Industri yang berlangsung pada 18 s.d. 22 Mei 2026 di lingkungan BBPPMPV Seni dan Budaya, Yogyakarta.
Ketua Tim Fasilitasi Peningkatan Kompetensi, Sigit Purnomo, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan vokasi tidak dapat dilepaskan dari penguatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. “Guru dan kepala sekolah memiliki peran yang sangat strategis dalam memastikan pembelajaran di SMK tetap relevan dengan perkembangan dunia industri dan kebutuhan masa depan peserta didik. Karena itu, peningkatan kompetensi harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pada kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru Umum Bidang Seni dan Budaya SMK, sebanyak 40 pendidik dari satuan pendidikan vokasi bidang seni dan ekonomi kreatif mengikuti pelatihan yang terbagi ke dalam dua kelas. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi pendidik bidang seni dan ekonomi kreatif, memberikan pemahaman dasar karya seni, serta mengaplikasikan metode berkarya seni dalam pembelajaran. Selama pelatihan, peserta memperoleh materi terkait seni rupa melalui praktik seni rupa dengan cat air, seni teater melalui permainan teater, seni tari melalui pembuatan karya tari bentuk sederhana, serta seni musik yang dipadukan dengan teknologi.

Penanggung Jawab Peningkatan Kompetensi KS/PS & Guru Umum, Widayati Indarsih, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang agar guru tidak hanya memahami teori seni, tetapi juga mengalami langsung proses kreatif berkesenian. “Kami ingin para guru memiliki pengalaman praktik yang bisa mereka adaptasi kembali dalam pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih kontekstual, kreatif, dan menyenangkan bagi peserta didik,” jelasnya.
Sementara itu, Diklat Manajerial Peningkatan Kompetensi bagi Kepala SMK Berbasis Industri diikuti oleh 103 kepala SMK dari wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Bali. Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kompetensi kepala sekolah dalam menjalankan peran sebagai pemimpin transformasi pendidikan vokasi yang adaptif terhadap kebutuhan industri. Materi yang diberikan meliputi pembelajaran mendalam, kompetensi kepala satuan pendidikan, kepemimpinan dan manajemen sekolah, peningkatan kapabilitas manajerial, kewirausahaan, supervisi, hingga studi tiru di PT Intan Pariwara. Melalui kegiatan tersebut, kepala sekolah didorong untuk mampu membangun tata kelola sekolah yang profesional, memperkuat kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta merancang program sekolah yang inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Menurut Sigit Purnomo, kepala SMK saat ini memiliki peran yang semakin kompleks. “Kepala SMK tidak lagi hanya berfungsi sebagai administrator sekolah, tetapi juga sebagai pemimpin perubahan yang mampu membangun budaya kerja industri, memperkuat teaching factory, dan memastikan lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja,” ungkapnya.
Widayati Indarsih juga menekankan pentingnya kolaborasi dan jejaring dalam pengembangan sekolah berbasis industri. “Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh penguatan materi, tetapi juga membangun jejaring dan berbagi praktik baik antarsekolah. Harapannya, hasil pelatihan ini dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata dalam pengembangan sekolah masing-masing,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan studi tiru menjadi salah satu pengalaman penting bagi peserta untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan yang dekat dengan budaya industri. “Peserta dapat belajar bagaimana membangun sistem kerja yang efektif, profesional, dan adaptif terhadap kebutuhan industri. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan sekolah,” katanya.

Melalui penyelenggaraan dua program tersebut, guru dan kepala SMK diharapkan dapat semakin siap menghadapi tantangan pendidikan vokasi di era transformasi industri. Penguatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan mampu mendorong terciptanya pembelajaran yang berkualitas, tata kelola sekolah yang profesional, serta lulusan SMK yang kompeten dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. (Nan)

