Dalam upaya memperkuat kompetensi guru vokasi agar semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja, BBPPMPV Seni dan Budaya tengah menyelenggarakan dua program peningkatan kompetensi secara paralel, yaitu Upskilling dan Reskilling Guru Vokasi Bidang Seni dan Budaya Pola Daring–Magang Gelombang 2 serta Upskilling dan Reskilling Guru Vokasi Bidang Seni dan Budaya Pola Pusat Belajar. Kedua program tersebut berlangsung sepanjang Juni 2026 dan memberikan pengalaman belajar yang mengombinasikan penguatan kompetensi teknis, pembelajaran berbasis praktik, serta pengenalan budaya kerja industri.
Program Upskilling dan Reskilling Pola Daring–Magang Gelombang 2 dilaksanakan pada 9–26 Juni 2026 dengan mengombinasikan pembelajaran daring dan pengalaman magang langsung di dunia industri. Sebanyak 30 guru SMK dari berbagai daerah mengikuti program ini yang terbagi ke dalam tiga konsentrasi keahlian, yaitu Teknik Grafika melalui paket Masterclass Alur Kerja Grafika, Animasi melalui paket End-to-End 3D Animation Process & Premium AI Software Experience (Industry Standard), serta Kriya Kreatif Batik dan Tekstil melalui paket Produksi dan Inovasi Batik Tradisional dan Modern.
Pembelajaran daring dilaksanakan pada 9–13 Juni 2026, kemudian dilanjutkan dengan magang industri pada 17–26 Juni 2026. Para peserta melaksanakan magang di industri yang relevan dengan bidang keahliannya, yaitu CV Andi Offset Yogyakarta untuk Teknik Grafika, Hompimpa Animation Studio Malang untuk Animasi, serta Rumah Batik Komar Bandung untuk Kriya Kreatif Batik dan Tekstil.
Sementara itu, Upskilling dan Reskilling Guru Vokasi Bidang Seni dan Budaya Pola Pusat Belajar diselenggarakan pada 10–24 Juni 2026 di SMK Raden Umar Said Kudus. Program ini diikuti oleh 10 guru kejuruan Animasi dari berbagai SMK bidang seni dan ekonomi kreatif. Melalui paket pelatihan 3D Animation, peserta memperoleh kesempatan belajar langsung di lingkungan sekolah yang telah memiliki praktik baik dalam pengembangan pembelajaran dan kerja sama dengan industri.
Kedua program tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Perubahan yang dipicu oleh kemajuan kecerdasan artifisial, robotika, dan otomasi menuntut guru SMK untuk selalu memperbarui kompetensinya agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Selain memperkuat kompetensi profesional guru, kedua program ini juga bertujuan memberikan pemahaman mengenai budaya kerja industri, memperluas wawasan terhadap perkembangan teknologi, memfasilitasi pelaksanaan uji kompetensi, serta menghasilkan portofolio dan karya yang dapat mendukung pembelajaran di sekolah masing-masing.
Ketua Tim Kerja Fasilitasi Peningkatan Kompetensi (FPK) BBPPMPV Seni dan Budaya, Sigit Purnomo, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kedua pola pelatihan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan berdampak langsung terhadap kualitas pembelajaran di sekolah. “Kami berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya memperkuat kompetensi teknis guru, tetapi juga memperluas wawasan mereka terhadap perkembangan teknologi, budaya kerja industri, dan kebutuhan dunia kerja saat ini,” ujarnya.

Menurut Sigit, pendekatan pembelajaran yang memadukan teori, praktik, serta pengalaman langsung di industri maupun pusat belajar menjadi salah satu cara efektif untuk memperkuat relevansi pembelajaran vokasi. “Pada pola Daring–Magang, peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan secara daring, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas industri sehingga dapat memahami standar kerja, alur produksi, dan perkembangan teknologi yang digunakan di lapangan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Pola Pusat Belajar juga memberikan manfaat yang tidak kalah penting karena memungkinkan terjadinya transfer praktik baik antar satuan pendidikan. “Melalui Pola Pusat Belajar, para guru memiliki kesempatan untuk belajar dari praktik baik yang telah diterapkan oleh SMK yang menjadi pusat belajar. Kolaborasi semacam ini sangat penting untuk mempercepat peningkatan kualitas pembelajaran vokasi,” katanya.
Selama mengikuti pelatihan, peserta memperoleh berbagai materi yang mencakup kebijakan pengembangan pendidikan vokasi, pembelajaran mendalam, teaching factory, orientasi pelatihan, penyusunan portofolio, praktik kejuruan, orientasi dan implementasi magang industri, hingga uji kompetensi. Pada Pola Pusat Belajar, peserta juga mendapatkan pengalaman belajar melalui praktik kejuruan secara intensif, pameran karya, evaluasi, refleksi, dan penyusunan rencana tindak lanjut.
Melalui pengalaman belajar tersebut, guru diharapkan mampu mengimplementasikan kompetensi baru yang diperoleh ke dalam proses pembelajaran, memperkuat keterkaitan antara sekolah dan dunia industri, serta menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja. “Kami berharap seluruh peserta dapat mengimplementasikan kompetensi yang diperoleh selama pelatihan ke dalam pembelajaran di sekolah, menularkan praktik baik kepada rekan sejawat, serta mendorong lahirnya lulusan SMK yang semakin kompeten, kreatif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja,” tutur Sigit.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberhasilan program peningkatan kompetensi guru tidak hanya diukur dari terselenggaranya pelatihan, melainkan dari dampak yang dihasilkan setelah peserta kembali ke sekolah masing-masing. “Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari selesainya pelatihan, tetapi dari sejauh mana ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh peserta dapat memberikan dampak nyata bagi peserta didik dan peningkatan mutu pendidikan vokasi di daerah masing-masing,” pungkasnya. (Nan)

