Dalam upaya memperkuat transformasi pembelajaran berbasis digital di sekolah menengah kejuruan (SMK), BBPPMPV Seni dan Budaya menyelenggarakan kegiatan Pendampingan Penjaminan Mutu Pendidikan pada Satuan Pendidikan melalui Digitalisasi Pembelajaran di 45 SMK Pusat Belajar (PB) di wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Bali. Kegiatan yang dilaksanakan dalam dua gelombang pada 5 s.d. 8 Mei 2026 dan 10 s.d. 13 Mei 2026 tersebut menyasar 311 SMK penerima bantuan Interactive Flat Panel (IFP). Setiap SMK diwakili oleh tiga peserta yang terdiri atas Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Guru Kejuruan (Produktif), dan Guru Umum.
Pelaksanaan kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program digitalisasi pembelajaran yang menjadi salah satu prioritas transformasi pendidikan nasional, sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 dan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2025. Program digitalisasi pembelajaran bertujuan mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran, menyediakan materi pembelajaran yang berkualitas dan merata, serta meningkatkan kemampuan digital pendidik dan peserta didik.
Sejak paruh kedua tahun 2025, pemerintah mulai menyalurkan IFP ke berbagai SMK di Indonesia. Namun demikian, keberadaan perangkat tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran yang aktif, interaktif, dan efektif. Ketua Tim Kerja Penjaminan Mutu Pendidikan, Sito Mardowo, S.Sn., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini berfokus pada optimalisasi pemanfaatan IFP dalam pembelajaran. “Tujuan utama kegiatan ini adalah memastikan guru-guru dapat memanfaatkan IFP yang sudah diterima sekolah sebagai media yang benar-benar mendukung proses pembelajaran. Jangan sampai IFP hanya digunakan sebagai pengganti proyektor untuk menayangkan materi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peserta yang mengikuti pendampingan memiliki peran penting untuk menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan guru lainnya di sekolah masing-masing. “Guru-guru yang hadir di sini nantinya diharapkan dapat mendiseminasikan dan mengajarkan kembali apa yang sudah dipelajari kepada guru-guru lain, sehingga pemanfaatan IFP bisa semakin luas dan optimal di sekolah,” jelasnya.
Dalam kegiatan pendampingan tersebut, para peserta juga diajak untuk mengeksplorasi berbagai sumber materi pembelajaran interaktif, baik yang tersedia secara umum di internet maupun melalui platform Rumah Pendidikan. Selain itu, peserta dikenalkan dengan pemanfaatan aplikasi berbasis artificial intelligence (AI) untuk membantu pembuatan media pembelajaran interaktif dengan cara yang lebih sederhana dan praktis. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai konsep penjaminan mutu pendidikan melalui digitalisasi pembelajaran, meningkatnya kompetensi dalam memanfaatkan IFP, serta mampu menghasilkan media pembelajaran interaktif yang dapat digunakan di sekolah masing-masing.
Salah satu peserta, Yheni Siwi Utami, S.Pd., dari SMK Muhammadiyah 1 Moyudan, mengungkapkan bahwa di sekolahnya pemanfaatan IFP sebenarnya sudah mulai dilakukan secara bergiliran oleh setiap kelas. “Di sekolah kami, setiap kelas mendapat giliran menggunakan IFP selama satu minggu, kemudian bergantian dengan kelas lain. Beberapa guru juga sudah mencoba menggunakannya, meskipun memang belum maksimal dan belum banyak mengeksplorasi fitur-fiturnya,” ujarnya.
Menurutnya, selain diberikan pelatihan teknis, guru juga perlu dibiasakan untuk langsung menggunakan perangkat tersebut dalam pembelajaran sehari-hari. “Guru-guru perlu dibiasakan untuk menyentuh dan menggunakan IFP secara langsung. Namun, saat ini jumlah IFP masih terbatas karena baru tersedia satu unit di sekolah, sehingga itu masih menjadi kendala,” tambahnya. Ia berharap ke depannya jumlah IFP di sekolah dapat ditambah sehingga semakin banyak guru yang terbiasa dan semakin terampil memanfaatkannya dalam pembelajaran. “Semoga nanti jumlah IFP bisa bertambah, sehingga lebih banyak guru yang semakin lihai menggunakan teknologi ini untuk meningkatkan kualitas dan pengalaman belajar siswa,” katanya.

Sementara itu, Slamet Budiman, S.Kep., peserta dari SMK Taruna Negara Wonosobo, mengaku mendapatkan banyak inspirasi baru setelah mengikuti materi pembuatan media pembelajaran interaktif. “Setelah mendapatkan materi ini, saya jadi tertarik untuk mengeksplorasi berbagai jenis media pembelajaran interaktif yang bisa digunakan dalam pembelajaran Keperawatan di kelas,” ungkapnya. Ia juga menyampaikan ketertarikannya untuk mulai memanfaatkan AI dalam pembuatan media pembelajaran. “Saat ini saya tertarik membuat video pembelajaran menggunakan AI dan masih dalam tahap brainstorming terkait isi konten yang akan dimasukkan dalam video tersebut,” tambahnya.
Melalui kegiatan pendampingan ini, BBPPMPV Seni dan Budaya berharap pemanfaatan Interactive Flat Panel di sekolah tidak hanya menjadi pelengkap sarana pembelajaran, tetapi benar-benar mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan di era digital. Dengan optimalisasi penggunaan teknologi pembelajaran, mutu pendidikan SMK diharapkan dapat terus meningkat seiring berkembangnya kompetensi digital para pendidik. (Nan)

