11 Mei 2026, Sen

Lewat Sharing Pembiayaan, Upskilling dan Reskilling Gelombang 3 Jangkau Guru SMK dari Luar Jawa

Sebanyak 111 guru SMK pengampu mata pelajaran produktif bidang seni dan industri kreatif mengikuti Upskilling dan Reskilling Guru Vokasi Bidang Seni dan Budaya Gelombang 3. Upskilling dan Reskilling gelombang 3 ini dilaksanakan pada 6 s.d. 30 September 2025 secara blended (perpaduan daring dan luring). Pembelajaran daring dilaksanakan pada 6 s.d. 9 September sedangkan luring dilaksanakan pada 11 s.d. 30 September di BBPPMPV Seni dan Budaya dan dunia usaha dan industri (DU/DI). Pada gelombang 3 ini, perekrutan peserta dilakukan secara terbuka melalui proses seleksi, bukan penunjukan seperti pada kedua gelombang selanjutnya. Perekrutan ini dilakukan agar sasaran peserta menjadi lebih luas dan dapat menjangkau wilayah Indonesia di luar Pulau Jawa. Namun, agar hal ini dapat dilakukan, pada gelombang 3 ini, dibuatlah skema sharing pembiayaan transportasi peserta antara BBPPMPV Seni Budaya dengan sekolah.

Pada pembukaan resmi yang diselenggarakan di Auditorium Saraswati, BBPPMPV Seni dan Budaya, Feti Anggraini, S. Ant., M.A. selaku penanggung jawab kegiatan Upskilling dan Reskilling menyampaikan, “Pada Upskilling dan Reskilling gelombang 3 ini, peserta berjumlah 111 orang dari 8 konsentrasi keahlian, yaitu DKV, Animasi, Produksi dan Siaran Program Televisi (PSPT), Produksi Film,  Kriya Kayu dan Rotan, Kriya Logam dan Perhiasan, Kriya Kulit, dan Kriya Keramik.”

Feti menjelaskan, “Program Upskilling dan Reskilling ini diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan guru vokasi dalam kompetensi professional agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan di era digital, memberikan wawasan dan budaya kerja industri, melakukan Uji Kompetensi Keahlian bagi peserta di industri/dunia kerja/LSP P2 BBPPMPV Seni dan Budaya, dan menghasilkan produk/karya sesuai kompetensi keahlian masing-masing peserta.”

Kepala Bagian Tata Usaha BBPPMPV Seni dan Budaya, Wanto, S.T., M.Eng. yang membuka kegiatan mewakili Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya yang berhalangan hadir mengemukakan potensi besar dari peningkatan kompetensi masif bagi guru dan tenaga kependidikan di Indonesia, khususnya di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Pendidikan Vokasi & PKPLK).

“Saya berharap, potensi ini hendaknya bisa selaras dan mendukung Asta Cita Presiden dan Visi Presiden ‘Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045’. Harapannya, kita sudah menjadi 5 besar ekonomi termaju di dunia tahun 2045 dengan sumber daya manusia (SDM) yang berlimpah,” jelasnya.

Wanto menerangkan bahwa dari 8 Asta Cita Presiden, ada tiga yang bersinggungan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur; memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas; dan memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.

Selaras dengan Asta Cita dan Visi Presiden, lahirlah Visi Kemendikdasmen, yaitu ‘Pendidikan Bermutu untuk Semua’. Dari visi ini, dibuatlah program-program prioritas Kemendikdasmen. Dari 6 program prioritas, program yang memiliki keterkaitan erat dengan Ditjen Vokasi & PKPLK yaitu peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru, serta penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan.

“Agar peningkatan kompetensi sesuai dengan harapan dan mencapai sasaran, Balai diharapkan dapat berinovasi agar dapat bermitra lebih optimal dengan para guru. Inovasi yang harus dilakukan itu diwujudkan dengan sharing anggaran dan peralatan supaya Upskilling dan Reskilling lebih masif dan lebih cepat selesai,” tegas Wanto.

Ia menyebutkan, banyak masyarakat memiliki mispersepsi dan menganggap anggaran Kemendikdasmen sangat berlimpah karena mengelola 20% anggaran pendidikan. Padahal, dari 20% tersebut, lebih banyak anggaran diperuntukkan bagi transfer daerah dan ke kementerian lain yang bersinggungan dengan pendidikan.

“Di Kemendikdasmen anggaran yang tersisa hanya 12% dari total anggaran untuk pendidikan,” tandasnya. Ia berharap, dengan terselenggaranya pelatihan penignkatan kompetensi secara massif bagi guru,  pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap yang baik yang dipelajari selama kegiatan Upskilling dan Reskilling dapat diimbaskan ke siswa sehingga bisa mendukung tujuan SMK. (Nan)

By Vesca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *