Suasana pagi di lingkungan BBPPMPV Seni dan Budaya, Sleman, tampak berbeda pada 23 November 2025. Para kepala sekolah dari berbagai daerah DIY hingga Jawa Tengah datang dengan wajah penuh antusias. Mereka bukan sekadar menghadiri pelatihan, tetapi memasuki ruang belajar baru yang akan memperkaya perspektif mereka sebagai pemimpin satuan pendidikan vokasi.
Selama enam hari, sebanyak 32 Kepala SMK mengikuti Diklat Manajerial Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah Vokasi bidang seni dan budaya. Ruang-ruang kelas yang biasanya dipenuhi guru atau widyaiswara kini diisi diskusi para pemimpin sekolah yang ingin memperkuat kapasitas manajerial dan kepemimpinan mereka.
Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya membuka kegiatan dengan pesan kuat mengenai peran strategis kepala sekolah. “Kepala sekolah adalah penggerak utama perubahan. Kalau kepemimpinannya kuat, sekolah akan tumbuh. Kalau kepemimpinannya lemah, sekolah mudah tertinggal,” ungkapnya. Pernyataan itu menjadi pembuka yang menegaskan betapa pentingnya penguatan kompetensi manajerial dalam pendidikan vokasi.
Setiap hari, peserta memulai kelas sejak pagi hingga sore. Di sela-sela kopi hangat dan obrolan ringan saat coffee break, mereka berbagi cerita tentang tantangan yang dihadapi di sekolah masing-masing: mulai dari pengelolaan SDM, implementasi teaching factory, hingga kebutuhan menyelaraskan program sekolah dengan industri kreatif.
Materi yang diberikan mencakup pola pikir bertumbuh, pembelajaran mendalam, koding dan kecerdasan artifisial, supervisi akademik, hingga kewirausahaan berbasis seni. Semua dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata sektor vokasi, sekaligus mempersiapkan peserta menghadapi perubahan zaman.
Tidak hanya belajar di kelas, peserta juga mengikuti studi tiru ke sekolah yang telah sukses menerapkan BLUD. Di sana, mereka melihat langsung bagaimana pengelolaan keuangan yang fleksibel dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas layanan pendidikan vokasi.
“Studi tiru seperti ini membuka wawasan kami. Ada banyak hal yang bisa diterapkan di sekolah, terutama terkait kemandirian dan inovasi,” kata salah satu peserta.
Di hari-hari terakhir, para kepala sekolah menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL)—semacam peta jalan kecil yang akan menjadi bekal mereka untuk melakukan perubahan nyata saat kembali ke satuan pendidikan masing-masing.
Meski suasana diklat cair dan penuh diskusi, kedisiplinan tetap dijaga. Peserta diwajibkan hadir tepat waktu, berpartisipasi aktif, dan mematuhi tata tertib pelatihan. Kelulusan hanya diberikan bagi mereka yang mencapai nilai minimal 80 dan hadir lebih dari 90 persen sesi pembelajaran.
Proses penutupan berlangsung hangat. Satu per satu peserta menyampaikan refleksi singkat, beberapa bahkan mengungkapkan bahwa diklat ini menjadi momen recharge bagi mereka sebagai pemimpin di sekolah.
Diklat manajerial ini terselenggara melalui pendanaan DIPA BBPPMPV Seni dan Budaya Tahun Anggaran 2025, dengan dukungan penuh dari tim pelaksana yang bekerja di balik layar mulai dari koordinator, staf administrasi, hingga teknisi yang memastikan setiap sesi berjalan lancar.(AUREL/AR)

