Setelah sukses menyelenggarakan kegiatan Upskilling dan Reskilling gelombang 1 pada bulan April lalu, Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya Kembali menyelenggarakan Upskilling dan Reskilling Guru Vokasi Bidang Seni dan Budaya Gelombang 2. Sebanyak 129 guru sekolah menengah kejuruan (SMK) hadir sebagai peserta pada pembukaan resmi kegiatan yang dilangsungkan di Auditorium Saraswati, BBPPMPV Seni dan Budaya pada Rabu (06/08/25). Upskilling dan Reskilling Gelombang 2 ini membuka 10 kelas, yaitu: 1) DKV (Teknik Grafika), 2) DKV (Videografi Periklanan), 3) Animasi, 4) Produksi dan Siaran Program Televisi, 5) Produksi Film, 6) Seni Tari, 7) Kriya Kreatif Kayu dan Rotan, 8) Kriya Kreatif Batik dan Tekstil, 9) Seni Lukis, dan 10) Seni Musik Pop.

Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya, Masrukhan Budiyanto S.H., M.M., dalam laporannya menyampaikan, “Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, hasil yang kita harapkan yaitu adanya peningkatan kemampuan professional guru sesuai kompetensi keahlian masing-masing; ada peningkatan wawasan dan budaya kerja industri; peserta menghasilkan produk/karya sesuai kompetensi keahlian; dan peserta memperoleh sertifikat kompetensi dari industri atau Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Kedua (LSP P2) BBPPMPV Seni dan Budaya.”
Kegiatan Upskilling dan Reskilling Gelombang 2 ini dilaksanakan menggunakan metode blended learning, yaitu kombinasi antara pembelajaran daring dan luring. Peserta telah mengikuti pembelajaran daring yang dilaksanakan mulai 1 s.d. 4 Agustus 2025. Mulai 6 Agustus 2025, peserta mengikuti pembelajaran luring di BBPPMPV Seni dan Budaya dan magang di industri sesuai program keahlian masing-masing.
Pada pembukaan kegiatan, Dr. Muhammad Hasbi, S.Sos., M.Pd., Sekretaris Ditjen Diksi PKLK, hadir mewakili Direktur Jenderal Diksi PKLK untuk memberikan pengarahan singkat. Selain itu, hadir pula Maria Yohana Esti Wijayati, S.H., yang merupakan Wakil Ketua Komisis X DPR RI. Pada kesempatan tersebut, Hasbi menyampaikan terima kasihnya kepada DPR RI yang telah membantu naiknya anggaran untuk Kemendikdasmen.

“Kami disini ingin menyampaikan terima kasih kepada Komisi X DPR RI yang telah membantu memperjuangkan Kemendikdasmen sehingga kita bisa mendapatkan penambahan pagu anggaran. Anggaran kita yang awalnya 33 Trilyun bisa naik menjadi 55 Trilyun,” ungkapnya. Lebih lanjut, Hasbi menjelaskan, “Penambahan ini berdampak juga pada kenaikan Pagu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah, tidak terkecuali BBPPMPV Seni dan Budaya. Ini nanti akan berpengaruh juga pada pelatihan/peningkatan kompetensi guru-guru SMK.”
Hasbi menyebutkan bahwa balai memiliki 2 tugas utama, yaitu bagaimana menciptakan kualitas pembelajaran terbaik di SMK dan bagaimana terus meningkatkan kapasitas guru vokasi yang menjadi kewenangannya. Menurutnya, saat ini kemajuan IPTEK menyebabkan ketergantungan dalam berbagai aspek. Hal ini mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran di satuan pendidikan vokasi bidang seni dan budaya. Guru perlu terus melakukan reskilling dan upskilling agar senantiasa relevan dengan perkembangan pengetahuan saat ini.
“Bagaimana menciptakan pembelajaran agar seni budaya di negara kita dapat mengglobal, dan bagaimana seni dan budaya dari luar dapat dijadikan hal positif yang memberikan dampak positif dan manfaat bagi perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah tugas penting guru vokasi seni dan budaya yang kita harap dapat ditingkatkan dari kegiatan upskilling dan reskilling ini,” jelas Hasbi.
Ia menambahkan guru perlu terus mengembangkan kemampuan belajar sepanjang hayat agar selalu relevan dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi. Sehingga akan menghasilkan anak-anak yang mampu beradaptasi pada perkembangan dunia yang sangat cepat.
“Terima kasih kepada guru sebagai garda terdepan dalam menghasilkan SDM unggul Indonesia di masa mendatang” terangnya di penghujung sambutan.
Terkait penambahan pagu anggaran yang disinggung oleh Hasbi, Esti menjelaskan, “Untuk tahun 2026, kita berhasil mengupayakan anggaran Kemendikdasmen naik menjadi 55 T, dengan revitalisasi sebesar 5,9 T. Kita memastikan ini sudah sesuai dengan mandatory spending 20% untuk pendidikan yang diamanatkan oleh UUD.”

“Tantangan vokasi saat ini luar biasa berat. Data BPS menunjukkan penyumbang tingkat pengangguran terbuka tertinggi adalah SMK, yaitu 9,01%. Hal ini perlu kita kaji, apakah kurikulumnya harus ada perbaikan ataukah pengambilan keputusan terkait jurusan perlu kita reviu kembali.”
Esti lebih lanjut menjelaskan bahwa kurikulum yang sudah dibangun pemerintah dengan melibatkan guru, tidak semata mata hanya untuk memajukan sektor/bidang tersebut tetapi juga untuk melestarikan dan mengembangkan budaya.
“Saya dulu di SD diajarkan tentang macam-macam batik dan makna dari motifnya. Hingga saat ini, saya masih ingat contohnya batik kawung itu melambangkan kesucian, kemurnian. Ini yang mungkin saat ini orang sudah lupa. Guru perlu menjadi unsur membangun karakter anak bangsa kita dan melestarikan seni dan budaya kita,” terangnya.
Ia mengingatkan agar seluruh rakyat Indonesia meyakini dan menerapkan konsep Trisakti Bung Karno. Pertama, mandiri di bidang ekonomi. Kedua, berdaulat di bidang politik. Ketiga, berkepribadian dalam kebudayaan. “Kita akan memajukan bangsa dengan ketiga hal tersebut,” tegasnya.
“Kita punya harapan besar pada bapak/ibu guru. Bukan hanya meng-upgrade diri dan mempelajari hal baru, tetapi bagaimana kekinian saat ini bisa diwujudkan dalam seni dan budaya. Harapan kami ada 3 untuk bapak/ibu guru. Pertama, peningkatan kompetensi keahlian seni dan budaya dan bidang teknologi. Kedua, siap menjadi mentor kreatif dan fasilitator di bidang seni. Terakhir, mampu menyiapkan siswa untuk berwirausaha di dunia kreatif.”
Komisi X DPR RI akan mengawal dan mengerahkan berbagai upaya untuk membantu mewujudkan hal tersebut. Ia sempat menyebutkan bahwa saat ini, sedang dibahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Pendidikan Nasional yang sebentar lagi akan segera selesai. Ini merupakan revisi dari UU No. 20 Tahun 2003 yang salah satunya memuat perlindungan hukum terhadap profesi guru.
Mengakhiri sambutannya, ia memberikan pesan semangat bagi para guru yang hadir. “Jangan menyerah karena keadaan. Tetaplah berjuang untuk kemajuan Indonesia,” pungkasnya.

Setelah sesi sambutan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, dilakukan pembukaan resmi dan diikuti dengan prosesi penyematan tanda peserta secara simbolis. Penyematan simbolis dilakukan kepada 2 perwakilan peserta yang diikuti secara mandiri oleh peserta lainnya. (Nan)

