Program Bina Budaya Antar Bangsa (BINAR) 2025 di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya secara resmi ditutup pada Sabtu (13/09/25). Penutupan kegiatan tersebut diselenggarakan di Ruang Drupadi, BBPPMPV Seni dan Budaya. Bukan hanya sebagai penutup rangkaian kegiatan, kegiatan ini juga merupakan wujud perayaan persahabatan lintas negara yang lahir dari seni dan budaya. Acara penutupan dihadiri oleh Wakil Rektor Universitas Terbuka, Prof. Rahmat Budiman, MA, Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya, Masrukhan Budiyanto, S.H., M.M., pengajar seni tari, batik, dan karawitan, serta panitia pelaksana kegiatan.
Apresiasi dari Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya
Dalam sambutannya, Masrukhan Budiyanto mengapresiasi para mahasiswa asing yang mengikuti kegiatan dengan antusias. “Dari Filipina, Malaysia, China, Turki, Jerman, hingga Vietnam, mereka datang dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Kini mereka pulang membawa pengalaman, keterampilan, dan persahabatan. Inilah bukti bahwa seni bisa menyatukan perbedaan,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa BBPPMPV Seni dan Budaya selalu terbuka untuk bermitra. “Kami tidak hanya menjaga warisan budaya, tapi juga ingin menggaungkannya ke seluruh dunia. Kemitraan adalah jalan agar seni kita semakin dikenal luas,” tambahnya.
BINAR sebagai Ruang Persahabatan
Acara resmi kemudian ditutup oleh Prof. Rahmat Budiman. Dalam sambutannya, Prof. Rahmat Budiman menegaskan bahwa program BINAR 2025 sejalan dengan misi Universitas Terbuka yang terus membuka akses pendidikan lintas batas.
“BINAR bukan hanya ruang belajar, tetapi ruang persahabatan. Di sini mahasiswa asing tidak sekadar mempelajari tari, karawitan, atau batik, tetapi juga memahami nilai kebersamaan. Kami berharap, setelah kembali ke negara masing-masing, mereka akan menjadi duta budaya Indonesia,” ungkap Prof. Rahmat.
Presentasi Hasil Belajar
Sebelum pertunjukan seni dimulai, para mahasiswa asing tampil membawakan presentasi singkat hasil pembelajaran mereka. Nguyen Hoang Bao Vy dari Vietnam bercerita bagaimana gamelan mengajarkannya harmoni. Milo Ezekiel Jimena Sevilla dari Filipina menunjukkan scarf batik buatannya, sementara Jenny Yeo dari Jerman mengungkapkan kekagumannya pada keanggunan tari Jawa.
Gelar Karya Kolaborasi

Puncak acara ditandai dengan gelar karya kolaboratif. Mahasiswa asing berlatih keras untuk tampil memainkan gamelan dengan alunan Lancaran Rainbow dan Lancaran Butterfly. Musik itu mengiringi Tari Kupu-Kupu Manis dan Candik Ayu yang mereka bawakan. Meski masih kaku di beberapa gerakan, semangat mereka menular. Tepuk tangan panjang menggema di ruang Drupadi.
Suara dari Balik Layar
Dalam wawancara terpisah, Cahya Yuana, S.Sos., M.Pd., selaku Ketua Tim Kerja Sistem Informasi Pengembangan dan Kemitraan BBPPMPV Seni dan Budaya sekaligus penanggung jawab teknis kegiatan, menyampaikan refleksinya.
“Kegiatan BINAR ini membuktikan bahwa seni bisa menjadi sarana jejaring yang efektif. BBPPMPV Seni dan Budaya siap bermitra dengan siapa saja, baik dalam maupun luar negeri. Semakin banyak kolaborasi, semakin luas pula gaung budaya kita,” ungkapnya.
Penutup Penuh Kenangan

Acara berakhir dengan sesi foto bersama. Para mahasiswa asing berdiri berdampingan dengan pimpinan Universitas Terbuka, Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya, para pengajar, dan panitia. Senyum dan tawa yang merekah jelas menggambarkan suasana keakraban yang tercipta sepanjang program. BINAR 2025 bukan hanya meninggalkan karya batik, denting gamelan, atau tarian indah, tetapi juga meninggalkan jejak persahabatan. Yogyakarta sekali lagi membuktikan diri sebagai kelas budaya dunia, tempat di mana seni menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan lintas bangsa. (Cahya/NAN)

