17 Feb 2026, Sel

Sebanyak 20 peserta didik dari SMK Negeri 1 Seni dan Industri Kreatif Asmat konsentrasi keahlian Kriya Kayu dan Rotan telah selesai melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya. Lebih dari 2 bulan program tersebut terlaksana, terhitung mulai tanggal 19 Juli hingga 26 September 2025.

Elizabeth Claudia Awarawi dan Enggelberta Wabka, dua peserta didik yang mengikuti program PKL tersebut membagikan banyak cerita menarik dan inspiratif. Elsa, sapaan akrab Elizabeth, dan Enggel, sapaan akrab Enggelberta, memang sudah familiar dengan kegiatan seperti memahat dan mengukir kayu serta menganyam rotan. Selain karena seni ukir dan pahat kayu serta anyaman merupakan budaya turun-temurun penduduk Kabupaten Asmat, Elsa dan Enggel mengaku memang memiliki ketertarikan dan bakat di bidang tersebut. Elsa juga mengakui, latar belakang keluarganya yang hampir semuanya merupakan seniman, terutama di bidang ukiran kayu, dan bahkan memiliki usaha yang bergerak di bidang tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorongnya untuk melanjutkan Pendidikan di SMK konsentrasi keahlian Kriya Kayu dan Rotan.

Elsa dan Enggel menjelaskan bahwa mereka sudah menantikan kesempatan untuk mengikuti PKL ini sejak duduk di kelas X. Elizabeth yang biasa dipanggil Elsa menceritakan, “Kami sudah tahu dari kelas X, dari kakak-kakak kelas XII yang ikut PKL. Semuanya bilang PKL ini menyenangkan, banyak pengalaman baru yang didapat, bisa banyak belajar juga, terutama keterampilan Kriya Kayu yang sebelumnya kita belum dapat di sekolah.”

Elsa menyampaikan, kegiatan PKL yang mereka ikuti dimulai dari pembelajaran di Studio Kriya Kayu. Diawali dengan perkenalan dan melatih desain konsep melalui sketsa, mereka lalu mempraktikkan hasil dari sketsa tersebut dan diwujudkan dalam karya/produk nyata secara berkelompok. “Iya, di kelompok aku membuat sandaran HP. Idenya karena aku sering makan sambil nonton HP” ujar Elsa.

Walaupun di PKL ini mereka akan lebih banyak mempelajari mengenai Kriya Kayu dan Rotan, sesuai konsentrasi keahlian mereka, namun Elsa mengakui ia lebih antusias dengan pelajaran membatik. “Kemarin (PKL tahun lalu) kakak-kakak sempat bilang, kalau kita ada pelajaran membatik. Itu menarik banget, tuh. Terus apalagi mereka bawa hasil karya waktu pulang. Itu kayak wow, bagus banget, bisa bikin begitu. Apalagi aku kan suka melukis, jadi excited bisa melukis di atas kain,” tutur Elsa.

Terlebih, Elsa mengatakan bahwa Asmat belum memiliki motif batik khas seperti daerah-daerah lainnya. Ia terinspirasi untuk bisa membuat motif batik yang bisa menjadi kekhasan Kabupaten Asmat. Ia juga berharap ia bisa menjadikan pembuatan batik Asmat ini sebagai salah satu usahanya kelak di samping membuat karya-karya kayu.

Berbagai karya yang dihasilkan oleh peserta didik selama mengikuti kegiatan PKL ini yaitu panel ukir kayu, patung, jam dinding, hiasan dinding, piring kayu ukir, kain batik, dan lainnya. Seluruh karya tersebut akan dibawa pulang ke Asmat dan dipamerkan di galeri sekolah. Elsa dan Enggel berharap, karya mereka nantinya bisa juga dipamerkan di ajang pameran budaya Kabupaten Asmat, seperti kakak kelas mereka tahun lalu.

Pengalaman magang di BBPPMPV Seni dan Budaya menjadi pengalaman yang sangat luar biasa bagi Elsa, Enggel, dan peserta didik Kriya Kayu dan Rotan kelas XII lainnya dari SMK Negeri 1 Seni dan Industri Kreatif Asmat. Selain menambah pengetahuan dan keterampilan, ini juga menjadi pengalaman pertama mereka berkunjung ke Yogyakarta, magang di industri kriya kayu, mengunjungi tempat wisata di Jawa Tengah dan DIY, dan menikmati kuliner yang baru bagi mereka.

Enggel menuturkan ia senang dan bersyukur bisa ikut dalam kegiatan PKL ini. Ia dan Elsa bahkan sangat betah dan merasa durasi PKL terlalu singkat. Pengalaman yang mereka dapatkan ini menjadi motivasi bagi Elsa dan Enggel untuk melanjutkan kuliah Kriya Kayu di Yogyakarta setelah lulus SMK nantinya. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat sebagai inisiator program PKL ini. Dampak penyelenggaraan program ini ternyata sesuai dengan tujuan yang mereka rencanakan, yaitu memotivasi generasi muda daerah untuk semangat menekuni Kriya Kayu demi melestarikan dan mengembangkan tradisi daerah. (Rifat/Nan)

By Vesca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *